Informasi Kesehatan Menarik,
Update Setiap Hari

search
artikel
Penyakit
19 Mei 2022

Sering Sakit Punggung, Ketahui Penyebab dan Pencegahannya! 

Ada banyak hal yang dilakukan selama seharian penuh. Mulai dari bekerja, memasak, menyetir, berolahraga, dan aktivitas lainnya. Semuanya mengandalkan tubuh sehat serta kuat. Namun tanpa terasa saat malam hari sakit punggung begitu terasa hingga sulit duduk bahkan tidur.  

Sakit punggung umum terjadi, apalagi jika duduk terlalu lama atau bekerja berat. Rasa sakitnya terasa ketika malam hari selepas beraktivitas layaknya patah sampai tidak bisa digerakkan. Tentu saja hal tersebut mengganggu waktu tidur. Oleh sebab itu ketahui segera penyebab, pencegahan dan gejala penyakit yang mungkin saja terjadi.

Daerah tulang belakang adalah penyangga utama tubuh. Ini harus cukup stabil untuk berdiri tegak dan fleksibel ketika digerakkan. Maka tidak heran bila sakit punggung diderita oleh sebagian besar orang.

Dilansir dari Web MD Health Service, beberapa gejala yang menyebabkan sakit punggung yakni nyeri otot, ligamen, tendon atau herniasi diskus, patah tulang dan masalah lain di punggung bagian atas, tengah serta bawah. Efek bisa langsung dirasakan, tetapi pada beberapa kasus terjadi berulang kali.

Agar dapat mencegah sakit punggung yang tiba-tiba atau terus-terusan dirasakan, ada baiknya ketahui penyebab dan bagaimana cara mengatasinya. Simak pada ulasan berikut ini!

Mengapa Sakit Punggung Umum Terjadi?

Menurut American Academy of Neurological and Orthopedic Surgeons seperti dilansir dari Eveyday Health, 80 persen orang Amerika mengalami sakit punggung setidaknya sekali dalam hidup mereka. Kondisi ini bisa terjadi di bagian manapun, mulai dari bawah hingga menyebar ke tengah. Tidak heran, mengingat tulang belakang berfungsi sebagai penopang berat badan manusia.

Namun, nyeri punggung di bagian tengah perlu perhatian. Sebab itu dapat berasal dari area tubuh lain, seperti masalah testis atau indung telur. Rasa sakit dikatakan ringan bila terjadi kurang dari sebulan. Sementara termasuk akut jika berlangsung lebih dari tiga bulan.

Stephen Hau Yan Kwok, asisten professor di Departemen Ortopedi dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran Li Ka Shing di Universitas Hongkong mengatakan bahwa nyeri punggung sering dilaporkan karena tidak seperti tekanan darah tinggi. Itu bisa saja disebabkan oleh penyebab berbeda.

Perbedaan penyebab sakit punggung juga bisa disebabkan oleh usia serta jenis kelamin. Biasanya hal tersebut lebih mudah menyerang wanita dibandikan pria. Sementara itu, semakin berusia lanjut, rasa nyeri terjadi hampir setiap saat.

Penyebab Sakit Punggung

Setelah beraktivitas seharian, secara tiba-tiba sakit punggung terasa begitu saja.  Hal tersebut lumrah terjadi dikarenakan aktivitas berat atau duduk terlalu lama. Akan tetapi apabila terasa secara terus menerus perlu konsultasi kepada dokter untuk mengetahui penyebab dan penyakit lanjutan.

Secara umum sakit punggung bagian bawah disebabkan oleh otot ligamen yang tegang. Disamping itu juga dikarenakan masalah struktural seperti kerusakan pada cakram, radang sendi, osteoporosis dan kelengkungan tulang belakang.

Ada pula faktor risiko lain yang meningkatkan peluang sakit punggung, antara lain:

  • Stres
  • Pekerjaan fisik terlalu berat
  • Merokok
  • Kegemukan
  • Kecemasan atau depresi
  • Hamil
  • Usia

Pencegahan Sakit Punggung

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum sakit punggung terasa, ada baiknya melakukan pencegahan. Sebab penyakit ini akan membuat penderitanya kurang nyaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Dilansir dari Mayo Clinic, sakit punggung disebabkan oleh tulang belakang yang kurang stabil. Untuk membuatnya kuat ialah berolahraga secara teratur. Hal tersebut juga turut membantu menjaga berat badan agar  tidak terlalu membuat punggung menopang beban berat.

Penyebab lain yang mungkin ialah posisi duduk dan berdiri yang kurang tepat. Maka, mulailah mempelajari cara yang baik agar postur tampak bagus dan mencegah rasa sakit pada punggung.

Sementara itu, nyeri pada punggung bagian bawah jarang memerlukan pembedahan. Biasanya hanya diobati dengan pereda nyeri dan anti-inflamasi disertai dengan istirahat. Perawatannya cukup melakukan pemijatan, akupuntur atau terapi lainnya.

artikel
AdminAdmin

Artikel Terbaru

Perbedaan Gender Mempengaruhi Tingkat Kesehatan Emosional
Kesehatan

Perbedaan Gender Mempengaruhi Tingkat Kesehatan Emosional

Wanita dan pria berbeda dari segi fisik dan emosional. Keadaan ini lantas memunculkan stereotip yang menyebar di masyarakat. Pria dianggap lebih tertutup, sedangkan wanita cenderung bersemangat dan mudah meluapkan perasaan.

Dilansir dari Everyday Health, penelitian mengenai keadaan emosional antara jenis kelamin menemukan bahwa ada perbedaan cara dalam memroses, mendeteksi, dan mengekspresikan emosi. Hal tersebut turut memengaruhi cara pandang, sikap, pemikiran serta pengambilan keputusan dari masing-masing gender.

Ditarik dari sisi parenting, stereotip antara pria dan wanita juga dipengaruhi oleh pola asuh serta bagaimana mereka dibesarkan. Seperti misalnya, anak laki-laki diarahkan bermain mobil-mobilan, bola, dan robot. Sementara perempuan bergulat dengan boneka, rumah-rumahan hingga masak-masakan. Itu telah ditanamkan sejak dahulu guna membentuk karakter hingga berpengaruh pada kondisi emosional.

Berikut perbedaan kondisi emosional antara pria dan wanita serta bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan!

Wanita Lebih Teliti daripada Pria

Wanita dan pria memiliki struktur otak yang sama, namun mereka berbeda dalam meneliti sesuatu. Keduanya punya cara berbeda dalam menilai atau mengamati sesuatu.

Menurut studi global menemukan bahwa wanita cenderung lebih teliti dalam mengamati. Mereka akan mempertanyakan tentang mengapa, di mana, seluk beluk hingga hal-hal yang sifatnya detail. Dari kasus tersebut akhirnya membentuk karakter perfeksionis yang sebagian dimiliki oleh kaum hawa.

Di sisi lain, karena ketelitian tersebut wanita cenderung memiliki sifat overthinking. Hal ini mempengaruhi kondisi emosionalnya yang mudah marah, menangis, hingga meluapkan perasaan.

Berbeda dengan pria, meskipun beberapa ada yang teliti namun ketelitian sebatas pada permukaan. Mereka cenderung berpikir dengan cara sederhana untuk menghasilkan suatu kesimpulan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa proses berpikirnya lebih cepat.

Wanita Lebih Ektroverts daripada Pria

Karakter umum pria dan wanita berbeda dari berbagai aspek. Ini memengaruhi bagaimana mereka berinteraksi dengan keadaan sosialnya.

Dalam penelitian, pada umumnya wanita memiliki karakter menyenangkan serta ekstrovert. Mereka terbuka dengan sekeliling atau orang baru. Seperti contoh dalam kehidupan sehari-hari, perempuan mudah mengungkapkan perasaan dan berbicara secara intens ketika tengah menghadapi suatu permasalahan.

Sementara, pria dinilai cenderung ke arah introvert. Mereka mudah menutup diri dan menyelesaikan permasalahan dengan tenang. Di sisi lain juga membutuhkan waktu sendiri untuk mengembalikan energi serta menyelesaikan perkara.

Wanita Lebih Pandai Membaca Reaksi

Ini berhubungan dengan kepekaan antara wanita dan pria. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal reaksi terhadap lingkungan dan sesama.

Wanita mudah membaca reaksi emosional orang lain. Mereka ikut terbawa suasana, baik ketika seseorang marah, sedih hingga bahagia. Di samping itu juga mampu memahami kondisi lawan bicara dengan baik.

Berbeda dengan pria, mereka bahkan kurang memahami suatu isyarat emosional baik secara verbal maupun visual. Tidak heran bila dalam kehidupan sehari-hari hal ini dikaitkan dengan karakternya yang lebih cuek dibandingkan wanita.

Perbedaan Emosional dan Hubungan dengan Kesehatan

Perbedaan gender memengaruhi pemrosesan dan respons emosional. Kondisi tersebut memiliki dampak pada kesehatan fisik maupun emosi.

Wanita yang terlalu emosional cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan suasana hati. Sementara pria dengan karakternya yang tertutup berisiko pada penyakit fisik, seperti tekanan darah tinggi hingga melakukan kebiasaan tidak sehat, merokok atau konsumsi alkohol.

Beberapa penelitian menemukan bahwa perbedaan mungkin berakar pada stereotip budaya. Di sisi lain, orangtua juga memiliki andil dalam pembentukan emosional.

artikel
AdminAdmin
Penyebab Epilepsi dan Pencegahannya
Penyakit

Penyebab Epilepsi dan Pencegahannya

Gangguan epilepsi umumnya terjadi pada anak-anak. Meskipun dalam beberapa kasus berlanjut hingga usia remaja dan dewasa. Namun, menurut American Epilepsy Society, hingga 70% penderita tidak diketahui penyebab pastinya.

The 2017 International League Against Epilepsy mengkategorikan epilepsi menjadi 6 golongan berdasarkan penyebabnya, antara lain genetik, struktural, metabolik, imun, infeksi dan tidak diketahui. Berikut ini penjelasan mengenai masing-masing kategori diikuti dengan pencegahan!

Etiologi Genetik

Pada etiologi genetik dijelaskan bahwa epilepsi diduga disebabkan oleh cacat genetik. Kendati sangat sedikit penderita yang memiliki mutasi genetik, namun faktor ini paling sering ditemukan dalam penelitian

Etiologi Struktural

Dalam kasus jenis ini, kejang disebabkan oleh perubahan struktur bagian otak. Seseorang bisa saja dilahirkan dengan kelainan tersebut. Atau bisa juga diakibatkan oleh proses seperti trauma kepala, infeksi serta stroke.

Etiologi Metabolik

Etiologi metabolik merupakan kondisi yang mengarah pada peningkatan risiko epilepsi. Dengan demikian dapat berkembang karena faktor ini.

Etiologi Imun

Dalam kasus ini, ada bukti bahwa peradangan sistem saraf pusat menyebabkan epilepsi. Biasanya terjadi pada jenis ensefalitis autoimun.

Etiologi Infeksi

Etiologi infeksi adalah salah satu penyebab yang paling penting dari epilepsi di seluruh dunia. Beberapa infeksi yang menyebabkan kondisi tersebut termasuk human immunodeficiency virus (HIV), malaria, TBC, dan infeksi parasit atau dikenal dengan cysticercosis.

Etiologi Tidak Diketahui

Etiologi tidak diketahui digunakan apabila penyebab tidak tergolong dalam beberapa jenis di atas. Sebelumnya disebut dengan kriptogenik karena terjadi pada sepertiga dari kasus epilepsi.

Pemicu Epilepsi

Penyebab epilepsi tidaklah sama dengan pemicunya. Perlu dicatat bahwa pemicu kejang tidak menyebabkan epilepsi, tetapi bisa menyebabkan kekejangan pada penderita epilepsi, terutama pada orang yang rentan.

Pemicu kejang umumnya ialah stres, kurang tidur, dehidrasi atau tidak makan, konsumsi obat-obatan hingga alkohol. Sementara yang terjadi pada anak-anak dikarenakan genetik, metabolisme, dan dilahirkan dengan masalah struktural di otak.

Sedangkan epilepsi pada orang dewasa lebih mungkin disebabkan oleh perubahan struktural, contohnya tumor dan stroke.

Kejang yang Tidak Disebabkan oleh Epilepsi

Sebagai catatan bahwa tidak semua kejang disebabkan oleh epilepsi. Bisa jadi karena masalah neurologis akut, seperti stroke atau cedera kepala. Dapat pula gangguan metabolisme, yakni hipoglikemia yang merupakan efek samping dari terapi insulin serta keracunan obat.

Pada bayi dan anak-anak, demam tinggi dapat menyebabkan kejang. Ditambah pula stres, melewatkan makan atau kurang tidur juga menjadi pemicu.

Pencegahan Epilepsi dan Kejang

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, sejauh ini tidak ada cara yang terbukti dapat mencegah semua bentuk epilepsi, namun bisa dikurangi risikonya. Infeksi cysticercosis dianggap sebagai penyebab umum dan ditularkan ke manusia dari parasit.

Anda bisa mengurangi risiko infeksi dengan menjaga kebersihan pribadi, seperti mencuci tangan secara teratur, membersihkan alat makan, dapur dan semua perabotan rumah tangga. Selain itu, ada juga yang disebabkan oleh trauma otak atau cedera kepala. Langkah untuk mencegahnya yakni gunakan helm saat berkendara, atau berolahraga seperti hoki, skateboard atau bersepeda. Pasikan memakai sabuk pengaman ketika mengendarai mobil.

Selanjutnya ialah mengurangi risiko serangan jantung dan stroke yang bisa menyebabkan epilepsi. Caranya dengan mengikuti pola makan sehat, olahraga secara teratur, dan hindari stres. Ini dapat membantu menjaga kesehatan organ tersebut sekaligus pembuluh darah.

Epilepsi juga dikaitkan dengan komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Menurut CDC, konsultasikan dengan dokter sejak awal mengenai rencana prenatal guna meminimalkan risiko.

Jika Anda didiagnosis epilepsi, maka cara mencegah kejang atau frekuensi adalah mengikuti pengobatan yang diresepkan oleh dokter. Pastikan konsumsi sesuai anjuran dan imbangi dengan pola hidup sehat.

 

artikel
AdminAdmin
Kenali 11 Jenis Epilepsi Berdasarkan Tanda Umum dan Area Otak
Penyakit

Kenali 11 Jenis Epilepsi Berdasarkan Tanda Umum dan Area Otak

Epilepsi memiliki kaitan erat dengan kejang. Sebab pada asarnya kejang termasuk dalam gejala gangguan ini. Kondiis disebabkan oleh aktivitas kimia dan listrik normal antar sel saraf di neuron yang terganggu. Akhirnya bagian tersebut menyala secara tidak normal hingga menyebabkan berbagai tanda.

Gangguan epilepsi dikelompokkan berdasarkan serangkaian karakteristik kompleks. Hal ini juga dibedakan menrut gejalanya atau area otak yang terkena. Dari kalsifikasi tersebut menghasilkan beberapa sindrom dan bisa terjadi secara bersamaan.

Berikut ini adalah jenis sindrom epilepsi yang palig umum terjadi. Meskipun melibatkan sel saraf pada otak, namun tidak berpengaruh pada perkembangan kognitif. Simak ulasannya!

Jenis Epilepsi yang Umum Terjadi

  • Childhood Absence Epilepsy (CAE)

CAE disebut juga dengan petit mal dan paling sering terjadi pada anak-anak. Penderita sindrom epilepsi ini hanya bisa menatap diam selama 10 hingga 20 detik. Kemudian mereka akan sadar dengan sendirinya secara tiba-tiba. Gejala akan hilang setelah memasuki masa remaja.

  • Juvenile Absence Epilepsy (JAE)

JAE berbeda dengan epilepsi yang terjadi pada anak-anak, jenis ini bisa bertahan seumur hidup. Sekitar 80% akan mengalami kejang tonik-klonik dan membutuhkan pengobatan cukup lama.

  • Juvenile Myoclonic Epilepsy (JME)

JME biasanya terjadi dalam waktu satu jam setelah bangun. Penderita mengalami kejang absen, mioklonik (menyentak otot) dan tonik-klonik umum. Adapun faktor yang memicunya, yakni kurang tidur dan stres, kelelahan hingga asupan alkohol berlebihan.

  • Epilepsi anak dengan paku centrotemporal

Jenis epilepsi ini juga disebut dengan rolandik jinak pada anak usia 3 hingga 12 tahun. Ketika terjadi, penderita mengalami kejang fokal. Setengah dari wajah mulai berkedut dan mati rasa.

Biasanya mengalami kejang di malam hari, seringkali saat tidur. Pada sebagian besar anak, gejala berhenti di usia 13 tahun atau berlanjut hingga 18 tahun.

  • Epilepsi refleks

Pada epipelsp refleks, stimulus tertentu dapat memicu kejang umum tonik-klonik (grand mal). Adapun yang paling sering terjadi, yakni fotosensitif, yang mana ketika lampu berkedip maka dapat menyebabkan kejang.

Penderita kesulitan untuk menonton televisi, bermain game, hingga mengamati cahaya pepohonan. Ada pula yang  sensitif terhadap pendengaran, seperti lagu atau pemicu taktil seperti mandi air panas atau menyikat gigi. Dengan demikian cara terbaik untuk mencegah yakni menghindari yang dapat menyebabkan kemungkinan gejala terjadi.

  • Sindrom epilepsi terkait tidur

Beberapa jenis epilepsi berhubungan dengan tidur atau terjadi setelahnya. Contohnya yakni hipermotorik atau dikenal dengan istilah lobus frontal nokturnal serta lobus temporal nokturnal.

Seperti epilepsi pada masa anak-anak dengan centrotemporal, sindrom epilepsi ini tidak terdeteksi. Tiba-tiba saja penderita mengalami kejang di waktu tersebut.

Jenis Epilepsi Berdasarkan Daerah Otak

  • Epilepsi lobus temporal

Epilepsi lobus temporal memiliki gejala de javu, ketakutan, bau atau rasa yang tidak biasa. Sindrom dimulai pada masa kanak-kanak dan berlangsung hingga remaja. Terjadi karena kerusakan pada hipokampus yang disebut sklerosis hipokampus, sehingga mengganggu pembelajaran serta memori.

Penderita cenderung menunjukkan perilaku berulang-ulang serta hal-hal yang sebenarnya tidak penting atau disebut dengan otomatisme. Otomatisme umum seperti menampar bibir, mengedipkan mata dan gerakan kepala tidak biasa.

  • Epilepsi lobus frontal

Penderita sindrom epilepsi lobus frontal memiliki kelemahan pada otot dan gerakan abnormal, seperti memutar, melambaikan tangan serta kaki. Ketika kejang, mereka menampakkan ekspresi meringis, terkejut, hingga berteriak. Seringkali kehilangan kesadaran atau bahkan terjadi saat tidur.

  • Epilepsi neokortikal

Epilepsi jenis ini bisa bersifat umum atau fokal. Korteks adalah lapisan luar otak dan gejala kejang bervariasi dari sensasi tidak biasa sampai halusinasi visual serta perubahan emosional.

  • Epilepsi lobus oksipital

Sindrom ini terjadi karena tumor atau malformasi otak. Biasanya terjadi di masa anak-anak dengan gejala kejang di kedua sisi tubuh dan adanya perubahan visual.

  • Kejang hipotalamus

Jenis epilepsi ini terbilang langka karena disebabkan oleh tumor hipotalamus non-kanker. Hamartoma hipotalamus seringkali sulit didiagnosis karena kejang tampak seperti tertawa.

Kenali jenis-jenis epilepsi di atas agar mengetahui gejala yang ditimbulkan. Dengan demikian dapat membantu orang sekitar jika memiliki tanda yang sama. Segera hubungi layanan kesehatan apabila mendapati kondisi demikian.

 

 

artikel
AdminAdmin

Pilih topik

Icon WhatsApp